Senin, 26 November 2012

EPIDEMIOLOGI PENYAKIT TIDAK MENULAR “KATARAK”



Penyakit tidak menular adalah New comminicable disease karena dianggap dapat menular melalui gaya hidup, gaya hidup dapat menyangkut pola makan, kehidupan seksual dan komunikasi global. Pengertian-pengertian dasar ini harus difahami dengan baik. Intinya atau subtansinya dalam epidemiologi penyakit tidak menular adalah ditemukannya penyebab dalam hal ini atau yang dipakai adalah istilah ditemukannya faktor resiko sebagai faktor penyebab.

Faktor resiko adalah karakteristik, tanda atau kumpulan gejala pada penyakit yang diderita induvidu yang mana secara statistic  berhubungan dengan peningkatan kejadian kasus baru berikutnya (beberapa induvidu lain pada suatu kelompok masyarakat). Karakteristik, tanda atau kumpulan gejala pada penyakit yang diderita induvidu dan ditemukan juga  pada induvidu-induvidu yang lain, bisa dirubah, ada juga yang tidak dapat bisa dirubah atau tepatnya :
  1. Factor resiko yang tidak dapat dirubah misalnya umur dan genetic
  2. Factor resiko yang dapat di rubah misalnya kebiasaan merokok atau latihan olah raga
Ada juga karakteristik, tanda atau kumpulan gejala pada penyakit yang diderita pada induvidu  dan ditemukan juga secara  tidak  stabil pada individu-induvidu yang lain dalam suatu kelompok masyarakat  yaitu
  1. Factor resiko yang dicurigai yaitu  factor-faktor yang belum mendapatkan dukungan sepenuhnya dari hasil-hasil penelitian sebagai factor resiko misalnya merokok sebagai penyebab kangker rahim
  2. Factor resiko yang  telah ditegakkan yaitu factor resiko yang telah mantap mendapat dukungan ilmiah/penelitian dalam peranannya sebagai factor yang berperan dalam kejadian sutau penyakit. Misalnya merokok sebagai factor resiko terjandinya kangker paru
Faktor resiko juga dapat dilihat dari Karakteristik, tanda atau kumpulan gejala pada penyakit yang diderita pada induvidu  dan induvidu-induvidu lainnya sebagai factor resiko  dalam keadaan angka frekwensi yang kuat dan lemah. Atau dapat didokumentasikan dengan baik dan didokumentasikan dengan kurang baik.
Kegunaannya  daripada factor resiko ini, pada dasarnya untuk mengetahui proses terjadinya penyakit dalam hal ini penyakit tidak menular. Misalnya :
  1. Untuk memprediksi, meramalkan kejadian penyakit, misalnya perokok berat mempunyai kemungkinan 10 kali untuk kanker paru daripada bukan perokok.
  2. Untuk memperjelas penyebab artinya kejelasan atau beratnya factor resiko dapat  menjadikannya sebagai factor penyebab, tentunya setelah menghilangkan pengaruh dan factor pengganggu  sehingga factor resiko itu adalah factor penyebab.
  3. Untuk mendiagnosa artinya membantu proses diagnose
            Kapan suatu factor resiko dapat ditegakkan sebagai factor resiko. Dalam epidemiologi dapat  atau biasa dilakukan dengan memakai konsep kausalitas sebab musebab (hubungan kausa), menurut para ahli kausalitas ada  8 kriteria  yaitu :
1.      Kekuatan yang dapat dilihat dari adanya resiko relative yang tinggi
2.      Temporal atau menurut urutan waktu, selalunya sebab-musebab mendahului akibat.
3.      Respon terhadap dosis paparan yang dapat menyebabkan penyakit
4.      Reversibilitas dimana paparan yang menurun akan diikuti penurunan kejadian penyakit
5.      Konsistensi yang diartikan kejadian yang sama akan berulang pada waktu, tempat dan penelitian yang lain
6.      Biologis atau yang berhubungan dengan fisiologis tubuh
7.      Spesifitas yang dilihat dari satu penyebab menyebabkan satu akibat
8.      Analogi yang diartikan adanya kesamaan untuk penyebab dan akibat yang serupa.
            Segitiga epidemiologi adalah modal utama yang harus dimiliki oleh seorang epidemiolog. Ini merupakan teori dasar yang terkenal sejak disiplin ilmu epidemiologi mulai digunakan di dunia. Dalam bidang epidemiologi terdapat sedikitnya 3 segitiga epidemiologi yang saling terkait satu sama lain yaitu, 1. Agent-Host-Environment (AHE), 2. Person-Place-Time (PPT), 3. Frekuensi- Distribusi- Determinan (FDD)
            Penjamu (host) , hal-hal yang berkaitan dengan terjadinya penyakit pada manusia dikarenakan keadaan manusia yang sedemikoan rupa sehingga menjadi faktor resiko timbulnya penyakit,  antara lain:
1.      Umur, jenis kelamin, ras, kelompok Etnik (suku), hubungan keluarga.
2.      Bentuk anatomis tubuh
3.      Fungsi fisiologis atau faal tubuh
4.      Status kesehatan, termaksud status gizi
5.      Keadaan imunitas
6.      Kebiasaan hidup dan kehidupan sosial    
            Penyebab (agent) : terdiri dari Biotis dan Abiotis
1.      Biotis, khususnya pada penyakit-penyakit menular, yaitu:
a.      Protozoa : Plasmodium
b.      Metazoa: Antropoda, helmentes
c.       Bakteri: salmonella
d.      Virus: dangue, polio, corona, measles.
e.      Jamur: candida, tinia Alagae
      2.      Abiotis terdiri dari:
a.      Nutrien Agen:  Misalnya kelebihan/kekurangan zat gizi (karbohidrat,
     lemak, mineral, protein, dan vitamin)
b.      Chemcal Agent : Misalnya Pestisida, Logam Berat, Obat-obatan, dll
c.       Phisical Agent: Misalnya Suhu, kelembapan, kebisingan, padas, radiasi
d.      Mechanical Agent:  Pukulan, kecelakaan, benturan, gesekan dan getaran.
e.      Psychis agent: gangguan Psikologi, stres dan depresi
f.        Genetic agent : gangguan genetik.
g.      Behavior Agent : kebiasaan merokok.
3.    Lingkungan (Environment), merupakan faktor ketiga penentu timbulnya suatu

penyakit. Faktor ini biasa disebut faktor entrinsik. Faktor lingkungan sangat menentukan dalam hubungan interaksi antara penjamu dengan faktor agent. Faktor lingkungan dapat berupa:
a.      Lingkungan Biologis (flora dan Fauna, termaksud manusia) bersifat
biotik. Misalnya Folra dan fauna yang berbeda akan mempunyai pola penyakit yang berbeda. Faktor lingkungan ini selain bakteri dan virus, ulah manusia juga mempunyai peran yang penting dalam terjadinya penyakit, bahkan dapat dikatakan penyakit timbul karena ulah manusia. Antara lain:    Miokroorganisme penyebab penyakit,  reservoar penyakit Infeksi,    vektor pembawa penyakit,   tumbuhan dan hewan sebagai sumber makanan, dan   manusia.
b.      Lingkungan Fisik, yang termaksud lingkungan fisik antara lain geografi
dan keadaan musiman. Misalnya pola penyakit berbeda antara wilayah pantai dan daerah pegunungan. Negara yang beriklim tropis berbeda pola penyakit dengan negara yang beriklim dingin atau sub tropis.
c.       Lingkungan Sosial Ekonomi
1.      Pekerjaan, perbedaan pekerjaan juga membrikan andil dalam pola
penyakit, pekerjaan yang sedang sedikit ditemukan penyakit Low Back Pain, tetapi pada pekerjaan yang berat dan lama dapat ditemukan LBP.
2.      Perpindahan penduduk dan kepadatan penduduk menjadi perantara
bagi agent untuk berpindak ketempat tujuan manusia. Dan kepadatan penduduk menimbulkan daerah perkumuhan, sampah dan tinja akan mencemari lingkungan dan air minum. Hal ini menjadi penunjang terjadi berbagai penyakit infeksi.
3.      Perkembangan Ekonomi
Peningkatan pendapatan seseorang akan mengubah pola konsumsi dan cenderung memakan makanan yang mengandung banyak koleterol. Keadaan ini menjadi pencetus terjadinya Hipertensi dan PJK. Sebaliknya, bila tingkat ekonomi rendah akan menimbulkan masalah perumahan yang tihan yang tidak sehat, kurang gizi, dan lain-lain yang memudahkan timbulnya penyakit Infeksi.
d.      Bencana alam akan banyak menimbulkan masalah kesehatan dan
menimbulkan kerugian yang cukup besar. Contohnya gunung meletus, Asap yang dikeluarkan akibat letusan dapat menyebabkan penyakit gangguan pernapasan pada warga sekitar Gunung Merapi.
            Katarak adalah proses kekeruhan yang terjadi pada sebagian atau seluruh bagian lensa mata. Penyebab katarak adalah karena faktor usia, kecelakaan, terganggunya metabolisme tubuh akibat penyakit berkepanjangan contoh diabetes, kadar kalsium darah rendah , bawaan lahir atau bahkan keracunan. Gejala yang dirasakan oleh penderita katarak adalah penglihatan yang berkabut, silau, bila dilihat dengan bantuan cahaya pada pupil akan terlihat keruh. Gejala lainnya sering berganti kaca mata, penglihatan ganda pada  salah satu mata .
            Katarak dibagi menjadi beberapa jenis yaitu: katarak senilis yaitu katarak yang timbul setelah umur 40 tahun, proses pasti belum diketahui, diduga karena ketuaan. Katarak  kongenital yaitu katarak yang timbul sejak dalam kandungan atau timbul setelah dilahirkan, umumnya disebabkan karena adanya infeksi, dan kelainan metabolisme pada saat pembentukan janin. Katarak Kongenital yang sering timbul karena infeksi saat ibu mengandung, terutama pada kehamilan 3 bulan pertama. Katarak traumatika yaitu katarak yang dapat menyerang semua umur, biasanya karena pasca trauma baik tajam maupun tumpul pada mata terutama mengenai lensa. Katarak komplimata adalah katarak yang timbul pasca infeksi mata.
            Biasanya katarak terjadi pada salah satu mata saja, sebagian penderita mengalami perubahan yang serupa pada kedua matanya, meskipun perubahan pada salah satu mata mungkin lebih buruk dibandingkan dengan mata lainnya. Banyak penderita katarak yang mengalami gangguan penglihatan yang ringan dan tidak sadar bahwa mereka katarak
            Katarak dapat diatasi dengan operasi yaitu pengambilan lensa keruh. Ada beberapa teknik operasi yang dilakukan di Rumah Sakit, yaitu: Operasi dengan irisan luas dengan jahitan konvensional dan dengan irisan kecil tanpa jahitan lensa dikeluarkan dengan alat Phaceomulsifikasi (small incision surgery). Pemilihan teknik operasi ini tergantung kekerasan lensa mata. Setelah lensa katarak diambil, penderita hanya dapat menghitung jari pada jarak 1 meter, kecuali penderita diganti lensanya.
Penggantian lensa ada dua cara yaitu:
1.      Penderita setelah dioperasi diberi kacamata atau lensa kontak positif kurang lebih 10 dioptri.
2.      Penderita dipasang lensa tanam bersamaan waktu dilakukan operasi, keuntungannya adalah penderita setelah operasi penderita langsung dapat melihat jelas, tidak perlu memakai kacamata sangat tebal, lapang pandang penderita tetap luas dan distorsi sinar dapat dihilangkan.
            Pencegahan timbul katarak, pencegahan utama adalah mengontrol penyakit yang berhubungan dengan katarak dan menghindari faktor-faktor yang mempercepat timbulnya katarak, menggunakan kaca mata hitam  ketika berada di luar ruangan saat siang hari dapat mengurangi  sinar ultra violet yang masuk pada mata, berhenti merokok bisa mengurangi terjadinya katarak. Hingga saat ini belum ditemukan obat yang dapat mencegah katarak. Beberapa penelitian sedang dilakukan untuk memperlambat proses katarak

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar